Sunday, 21 April 2013

She aNd Library,,


Saya adalah mahasiswa UIN Jurusan ilmu perpustakaan, yang baru smt 4. disini saya akan menceritakan sedikit tentang kisah kakak angkat kita yang telah menemukan jati dirinya di bidang perpustakaan. Saya tertarik tentang cerita dirinya yang bisa memilih jurusan ilmu perpustakaan. Mengapa saya menceritakan orang lain tidak saya sendiri saja ? karena kalau kisah cerita saya tragis bagaimana saya bisa nyangsang/nyangkut dijurusan ini, jadi saya memutuskan untuk mengangkat cerita dari senior saja. Tidak usah lama-lama mari kita mulai simak,, awal kisah kita mulai dari TKP!!!!
Dia  dibesarkan di lingkungan yang sangat sederhana di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota, background pendidikan kedua orang tuanya pun hanya sampai pada tingkat SMP. meski orang tuanya bukan dari kalangan yang mampu dan berintelek, tapi dia berkembang menjadi anak yang tergolong rajin membaca, dia sangat suka membaca, tak peduli bacaan apa saja yang dia temui pasti dia baca, dari buku-buku teksbook yang di pinjamkan sekolah hingga bungkus tempe dan koran bungkus ikan laut yang ibunya beli dari pasar pun sering  dia baca.
Disekolah adanya hanya LKS dan buku-buku teksbook saja tidak seperti sekarang yang sudah ada perpustakaan. Kedua orang tuanyapun merespon bahwa anaknya gemar membaca, kemudian merekapun membelikan buku-buku pelajaran yang biasanya digunakan bapak dan ibu guru. Diapun sangat senang, karna teman–temannya tidak mempunyai buku yang dia miliki, dan teman-teman pasti berkumpul belajar di rumah dia untuk mengerjakan tugas bersama. Karena buku-buku itulah prestasi belajarnya meningkat dan orang tuanyapun selalu menjanjikan untuk membelikan dia sebuah buku ketika dia mendapatkan ranking di kelas. Dari sinilah minat membaca dia semakin tinggi dan ingin terus maju untuk menjadi lebih baik.
Saat dia memasuki bangku SMP dia mulai dapat tersenyum manis karena SMP tempat dia bersekolah sudah mempunyai Perpustakaan. Hal ini jauh lebih baik dari pada kondisi ketika dia SD. Perpustakaan di SMP yang luasnya sekitar 2,5 X 6 M ini bisa di bilang sangat sempit, koleksinya sedikit memuat buku pelajaran dan sastra saja. Tak ada ensiklopedia ataupun karya-karya asing di rak perpustakaan. Jam pelayanannya hanya waktu istirahat saja ini dikarenakan belum ada petugas yang mengurusinya.  Bu Tri dan Bu heni adalah orang  selalu meluangkan waktu ketika jam istirahat untuk membuka pelayanan di perpustakaan. Setiap jam istirahat datang dia pasti bermain dengan buku-buku yang ada di perpustakaan mungil itu. Sering kali dia juga meminjam buku satra ketika tidak ada tugas sekolah. sedikit nakal juga, dia sering menggunakan kartu perpustakaan temannya untuk meminjam buku, dia pikir itu adalah cara nakal yang pintar dan bermanfaat.
Suatu sore ketika dia sedang asyik membaca sebuah novel karya Buya HAMKA, tenggelamnya Kapal Van der Wijk, bapaknya melihat buku yang sedang dia baca,beliau menegurku halus
“buku opo sing kok woco nduk??mbok yo buku pelajaran ae.ojo nganeh- aneh??”
Inilah awal kisah dia mencintai apa yang disebut itu buku kemudian kita lari kesaat terakhir dia SMA, Ketika akhir kelas 3 SMA, semua teman-temannya sibuk mengurus pendaftaran di Perguruan Tinggi tapi dia masih saja tak bergeming karena orang tuanya awalnya tak mengizinkan dia untuk melanjutkan belajar di luar Kota. Hingga ahirnya luluhlah hati kedua orang tuanya, om dan neneknya menyuruhnya menjadi guru saja namun kedua orang tuanya menyerahkan semua pada pilihan dia akan mengambil program study apa. Kenapa dia memilih ilmu peprustakaan karena di desa asalnya kebanyakan kuliah dengan program study PGSD dan Sastra Inggris saja , namun dia tidak mau mengikuti arus itu saja dia mencoba melawan arus itu dengan mengambil jurusan ini dan ingin memberitahukan bahwa bukan guru saja yang bisa sukses namun pustakawan juga bisa sukses.
Dia mengikuti UMPTN jalur Reguler Di UIN Sunan Klaijaga Yogyakarta. Kenapa dia memilih UIN karena yang pertama suka dengan kota Yogyakarta yang masih kental adat dan budayanya, kedua ingin memperdalam ilmu agamanya dan yang terakhir paling dekat dengan rumah. Pada awalnya Pend.Kimia sebagai Pilihan pertama Dan Ilmu Perpustakaan sebagai pilihan kedua, namun dalam hatinya berharap tidak diterima di pilihan pertama dan dia berharap diterima dipilihan kedua. Kenapa dia berharap diterima diperpustakaan karena dia tidak suka dengan pelajaran yang berhitung, sudah tahu gambaran perpustakaan itu apa dan gemar membaca buku. Dia juga suka dengan dunia public speaking dan diapun ingin mengembangkan skilnya itu didalam perpustakaan.
Alhamdulillah, Allah memang maha mengetahui. Dia di terima di Prodi Ipi.
Pada suatu perjalanan pulang kampung,, dia sempat ngobrol dengan kondektur bus yang tumpanginya,
“kuliah teng pundi mbak?”
“wonten jogja mas”
“ohh.. jogja. emange jupuk jurusan nopo??”
“ilmu Perpustakaan mas”.
“gek erep dadi opo? gajine ra sepiro to mbak, emange sampean betah jogo perpustakaan, sepi ngono??”
Ternyata perpustakaan dimata masyarakat sangatlah rendah dan profesi sebagai pustakawan di angaap tak berkualitas hanya di pandang sebelah mata sebagai profesi kelas dua. Namun dia  tak bisa diam dan pasrah begitu saja ketika orang lain berpendapat negatif tentang  perpustakaan dan segala yang terkait di dalamnya adalah hal yang tak bermutu. Dia yang memang orang sedikit cerewet dan bawel ini mulai beraksi berceloteh ria. Dia sedikit demi sedikit menjelaskan seperti apa sih perpustakaan itu. Mungkin apa yang dia lakukan tak akan berpengaruh besar namun setidaknya dia berharap dengan dakwah yang simple seperti ini (mungkin) bisa mengubah mind set  masyarakat terhadap brand image perpustakaan yang negativ di mata masyarakat.
Dia juga memiliki pengalaman yang tidak enak dengan petugas perpustakaan. Moment yang tak mengenakan hati, hal ini berawal ketika kelas mata kuliah pengantar ilmu perpustakaan, karena sang dosen sedang ada kepentingan maka kami ada kelas mandiri untuk mencari contoh kongkrit  dari definisi Data, informasi dan Pengetahuan. Saat itu dia berinisiatif untuk mengajak teman- teman untuk mncari informasi data base buku yang ada di perpustakaan. Ketika aku mengutarakan maksud untuk di tunjukan database koleksi bahan pustaka, rasanya apa yang dia sampaikan tak di dengarkan. Boro-boro di sambut senyum manis dari Raden Ngabei jogo Pustoko, ucapan salam dia saja tak di jawab. Beliau langsung mengangkat informasi yang bertuliskan “TIDAK MELANYANI KEGIATAN SIRKULASI. SISTEM DALAM PERBAIKAN”,yah itulah tulisan yang di hadapkan tepat di depan mukanya. Dalam hatinya menggerutu, dan sempat mengumpat pula karana memang baru kali ini dia menemui nabi informasi yang “serem”. Dan ironisnya tak hanya dia saja yang mengalami kejadian tak mengenakan dengan petugas perpustakaan, banyak teman-temannya yang juga mengalami nasib serupa tapi tak sama dengannya. Keluhannya semua sama yaitu:”KETIDAK NYAMANAN  AKIBAT KETIDAK RAMAHAN”. Sepertinya image  seram dan membosankan dari petugas perpustakaan ini telah tercover dalam fikirannya. Meski tak semua pustakawan seperti itu, tapi pepatah yang mengatakan karena nila setiitik rusak susu sebelanga ini bisa menjadi analogi yang cocok. Karena segelintir oknum di lembaga penyedia informasi ini berimage negativ, maka tak menutup kemungkinan akan berpengaruh terhadap pencitraan pustakawan lain sebut dia.
Berangkat dari peristiwa-peristiwa seperti itu dia ingin belajar dan belajar. Agar kelak nantinya dia bisa menjadi sosok pustakawan yang menyenangkan dan bisa menjadi pustakawan yang mampu memberikan senyuman ikhlas nan manis bagi orang-orang yang berinteraksi dengannya. Diapun memiliki fikiran untuk menjadikan pustakawan sebagi profesinya dan dosen sebagi pengabdiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi. Dan akhirnya dia ingin Mengikrarkan Bahwa perpustakaan Adalah Tempat SURGA ILMU, Pustakawan adalah profesi  yang Menyenangkan PLUS Pemustaka itu Bukan lah SOSOK “cupu(nerd)”.
Dia adalah Ema Puji Lestari anak Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2010. Kakak tingkat yang berasal dari Kota Reog ini juga banyak beraktivitas diluar kampus. Ia banyak mengikuti kegiatan organsasi baik di lingkungan kampus dan luar kampus. Sebagai seorang aktivis, terkadang memang menyita waktu perkuliahan namun sejauh ini ia bisa memanage kegiatannya. Adapun sebagian pengalaman organisasi yang pernah ia ikuti antara lain
1.    Staff Administrasi Kopma UIN tahun 2010
2.   Staff Usaha Kopma UIN tahun 2011
3.   Wakabid Keuangan Kopma UIN 2012
4.   Pimpinan Redaksi  Bulletin Kecapi 2011/2012
5.   Anggota Pusat Studi Layanan Difabel 2010/2011

6.   Anggota komisi GPMB DIY tahun 2013- 2016

No comments:

Post a Comment