Saya adalah
mahasiswa UIN Jurusan ilmu perpustakaan, yang baru smt 4. disini saya akan
menceritakan sedikit tentang kisah kakak angkat kita yang telah menemukan jati
dirinya di bidang perpustakaan. Saya tertarik tentang cerita dirinya yang bisa
memilih jurusan ilmu perpustakaan. Mengapa saya menceritakan orang lain tidak
saya sendiri saja ? karena kalau kisah cerita saya tragis bagaimana saya bisa
nyangsang/nyangkut dijurusan ini, jadi saya memutuskan untuk mengangkat cerita
dari senior saja. Tidak usah lama-lama mari kita mulai simak,, awal kisah kita
mulai dari TKP!!!!
Dia dibesarkan di lingkungan yang sangat
sederhana di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota, background pendidikan
kedua orang tuanya pun hanya sampai pada tingkat SMP. meski orang tuanya bukan
dari kalangan yang mampu dan berintelek, tapi dia berkembang menjadi anak yang
tergolong rajin membaca, dia sangat suka membaca, tak peduli bacaan apa saja
yang dia temui pasti dia baca, dari buku-buku teksbook yang di pinjamkan
sekolah hingga bungkus tempe dan koran bungkus ikan laut yang ibunya beli dari
pasar pun sering dia baca.
Disekolah adanya
hanya LKS dan buku-buku teksbook saja tidak seperti sekarang yang sudah ada
perpustakaan. Kedua orang tuanyapun merespon bahwa anaknya gemar membaca, kemudian
merekapun membelikan buku-buku pelajaran yang biasanya digunakan bapak dan ibu
guru. Diapun sangat senang, karna teman–temannya tidak mempunyai buku yang dia
miliki, dan teman-teman pasti berkumpul belajar di rumah dia untuk mengerjakan
tugas bersama. Karena buku-buku itulah prestasi belajarnya meningkat dan orang
tuanyapun selalu menjanjikan untuk membelikan dia sebuah buku ketika dia
mendapatkan ranking di kelas. Dari sinilah minat membaca dia semakin tinggi dan
ingin terus maju untuk menjadi lebih baik.
Saat dia memasuki
bangku SMP dia mulai dapat tersenyum manis karena SMP tempat dia bersekolah
sudah mempunyai Perpustakaan. Hal ini jauh lebih baik dari pada kondisi ketika
dia SD. Perpustakaan di SMP yang luasnya sekitar 2,5 X 6 M ini bisa di bilang
sangat sempit, koleksinya sedikit memuat buku pelajaran dan sastra saja. Tak
ada ensiklopedia ataupun karya-karya asing di rak perpustakaan. Jam pelayanannya
hanya waktu istirahat saja ini dikarenakan belum ada petugas yang mengurusinya.
Bu Tri dan Bu heni adalah orang selalu meluangkan waktu ketika jam istirahat
untuk membuka pelayanan di perpustakaan. Setiap jam istirahat datang dia pasti
bermain dengan buku-buku yang ada di perpustakaan mungil itu. Sering kali dia
juga meminjam buku satra ketika tidak ada tugas sekolah. sedikit nakal juga,
dia sering menggunakan kartu perpustakaan temannya untuk meminjam buku, dia
pikir itu adalah cara nakal yang pintar dan bermanfaat.
Suatu sore ketika dia sedang asyik membaca
sebuah novel karya Buya HAMKA, tenggelamnya Kapal Van der Wijk, bapaknya
melihat buku yang sedang dia baca,beliau menegurku halus
“buku opo sing kok woco nduk??mbok yo buku
pelajaran ae.ojo nganeh- aneh??”
Inilah awal kisah dia mencintai apa yang
disebut itu buku kemudian kita lari kesaat terakhir dia SMA, Ketika akhir kelas
3 SMA, semua teman-temannya sibuk mengurus pendaftaran di Perguruan Tinggi tapi
dia masih saja tak bergeming karena orang tuanya awalnya tak mengizinkan dia
untuk melanjutkan belajar di luar Kota. Hingga ahirnya luluhlah hati kedua
orang tuanya, om dan neneknya menyuruhnya menjadi guru saja namun kedua orang
tuanya menyerahkan semua pada pilihan dia akan mengambil program study apa.
Kenapa dia memilih ilmu peprustakaan karena di desa asalnya kebanyakan kuliah
dengan program study PGSD dan Sastra Inggris saja , namun dia tidak mau
mengikuti arus itu saja dia mencoba melawan arus itu dengan mengambil jurusan
ini dan ingin memberitahukan bahwa bukan guru saja yang bisa sukses namun
pustakawan juga bisa sukses.
Dia mengikuti
UMPTN jalur Reguler Di UIN Sunan Klaijaga Yogyakarta. Kenapa dia memilih UIN
karena yang pertama suka dengan kota Yogyakarta yang masih kental adat dan budayanya,
kedua ingin memperdalam ilmu agamanya dan yang terakhir paling dekat dengan
rumah. Pada awalnya Pend.Kimia sebagai Pilihan pertama Dan Ilmu Perpustakaan
sebagai pilihan kedua, namun dalam hatinya berharap tidak diterima di pilihan
pertama dan dia berharap diterima dipilihan kedua. Kenapa dia berharap diterima
diperpustakaan karena dia tidak suka dengan pelajaran yang berhitung, sudah
tahu gambaran perpustakaan itu apa dan gemar membaca buku. Dia juga suka dengan
dunia public speaking dan diapun ingin mengembangkan skilnya itu didalam
perpustakaan.
Alhamdulillah, Allah memang maha mengetahui.
Dia di terima di Prodi Ipi.
Pada suatu perjalanan pulang kampung,, dia
sempat ngobrol dengan kondektur bus yang tumpanginya,
“kuliah teng pundi mbak?”
“wonten jogja mas”
“ohh.. jogja. emange jupuk jurusan nopo??”
“ilmu Perpustakaan mas”.
“gek erep dadi opo? gajine ra sepiro to mbak, emange
sampean betah jogo perpustakaan, sepi ngono??”
Ternyata perpustakaan
dimata masyarakat sangatlah rendah dan profesi sebagai pustakawan di angaap tak
berkualitas hanya di pandang sebelah mata sebagai profesi kelas dua. Namun
dia tak bisa diam dan pasrah begitu saja
ketika orang lain berpendapat negatif tentang
perpustakaan dan segala yang terkait di dalamnya adalah hal yang tak
bermutu. Dia yang memang orang sedikit cerewet dan bawel ini mulai beraksi
berceloteh ria. Dia sedikit demi sedikit menjelaskan seperti apa sih
perpustakaan itu. Mungkin apa yang dia lakukan tak akan berpengaruh besar namun
setidaknya dia berharap dengan dakwah yang simple seperti ini (mungkin) bisa
mengubah mind set masyarakat
terhadap brand image perpustakaan yang negativ di mata masyarakat.
Dia juga memiliki
pengalaman yang tidak enak dengan petugas perpustakaan. Moment yang tak
mengenakan hati, hal ini berawal ketika kelas mata kuliah pengantar ilmu
perpustakaan, karena sang dosen sedang ada kepentingan maka kami ada kelas
mandiri untuk mencari contoh kongkrit
dari definisi Data, informasi dan Pengetahuan. Saat itu dia berinisiatif
untuk mengajak teman- teman untuk mncari informasi data base buku yang ada di
perpustakaan. Ketika aku mengutarakan maksud untuk di tunjukan database koleksi
bahan pustaka, rasanya apa yang dia sampaikan tak di dengarkan. Boro-boro di
sambut senyum manis dari Raden Ngabei jogo Pustoko, ucapan salam dia saja tak
di jawab. Beliau langsung mengangkat informasi yang bertuliskan “TIDAK
MELANYANI KEGIATAN SIRKULASI. SISTEM DALAM PERBAIKAN”,yah itulah tulisan yang
di hadapkan tepat di depan mukanya. Dalam hatinya menggerutu, dan sempat
mengumpat pula karana memang baru kali ini dia menemui nabi informasi yang “serem”.
Dan ironisnya tak hanya dia saja yang mengalami kejadian tak mengenakan dengan
petugas perpustakaan, banyak teman-temannya yang juga mengalami nasib serupa
tapi tak sama dengannya. Keluhannya semua sama yaitu:”KETIDAK NYAMANAN AKIBAT KETIDAK RAMAHAN”. Sepertinya
image seram dan membosankan dari petugas
perpustakaan ini telah tercover dalam fikirannya. Meski tak semua pustakawan
seperti itu, tapi pepatah yang mengatakan karena nila setiitik rusak susu
sebelanga ini bisa menjadi analogi yang cocok. Karena segelintir oknum di
lembaga penyedia informasi ini berimage negativ, maka tak menutup kemungkinan
akan berpengaruh terhadap pencitraan pustakawan lain sebut dia.
Berangkat dari peristiwa-peristiwa
seperti itu dia ingin belajar dan belajar. Agar kelak nantinya dia bisa menjadi
sosok pustakawan yang menyenangkan dan bisa menjadi pustakawan yang mampu
memberikan senyuman ikhlas nan manis bagi orang-orang yang berinteraksi
dengannya. Diapun memiliki fikiran untuk menjadikan pustakawan sebagi
profesinya dan dosen sebagi pengabdiannya terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan dan informasi. Dan akhirnya dia ingin Mengikrarkan Bahwa perpustakaan
Adalah Tempat SURGA ILMU, Pustakawan adalah profesi yang Menyenangkan PLUS Pemustaka itu Bukan
lah SOSOK “cupu(nerd)”.
1.
Staff Administrasi Kopma UIN tahun
2010
2.
Staff Usaha Kopma UIN tahun 2011
3.
Wakabid Keuangan Kopma UIN 2012
4.
Pimpinan Redaksi Bulletin Kecapi 2011/2012
5.
Anggota Pusat Studi Layanan Difabel
2010/2011
6.
Anggota komisi GPMB DIY tahun 2013-
2016
No comments:
Post a Comment